Welcome to our blogsite

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum. ed ut perspiciatis unde omnis iste.

Jumat, 26 Maret 2010

Syukuri apa yang ada...

Sering kali kita menjawab tiap ujian atau tiap masalah dengan keluhan.
bahkan mungkin nikmat pun sering kita “syukuri” dengan kekecewaan..

Buka matamu Sobat, apakah kita lebih miskin dari anak itu hingga mesti memakan makanan sisa yang berserakan di tanah??


Buka matamu Sobat, setidaknya Engkau masih memiliki keluarga, sedangkan bocah-bocah di Jalanan sana harus rela kehilangan Ayahnya, Ibunya bahkan mungkin nyawanya sendiri hanya untuk sebuah kata “Merdeka”..

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah. Dan apabila dia mendapat kebaikan, dia amat kikir.” (QS. al-Ma’ârij: 19-21)

MAKA NIKMAT TUHAN KAMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?

Sobat, ayo kita mulai menata hati kita, membasuhnya dengan taubat, memenuhinya dengan lantunan tahmid, menjadikannya hati yang akan mengantarkan kita pada puncak kesyukuran..

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. Al-Naml: 19).

( Terinspirasi setelah Menyaksikan Program Reality “Jika Aku Menjadi” ) semoga bermanfaat,,

Labuhan alit


Pada masa pemerintahannya, Panembahan Senopati terlibat percintaan dengan Kanjeng Ratu Kidul. Penguasa Laut Selatan itu bersedia membantu segala kesulitan Panembahan Senopati, dan Panembahan diminta untuk menyelenggarakan upacara persembahan sesaji kepada Kanjeng Ratu Kidul di pesisir selatan. Hal ini berdasarkan cerita turun-temurun serta kepercayaan masyarakat setempat.
Tingalan Jumenengan Dalem Nata

Labuhan Alit merupakan rangkaian upacara untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Nata (penobatan Sultan). Upacara yang dimulai di Pantai Parang Kusumo ini berakhir serentak di Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

Upacara Labuhan yang dimulai oleh Panembahan Senopati merupakan wujud syukur atas kelangsungan Kerajaan Mataram, juga untuk mendoakan keselamatan pribadi Sri Sultan, Keraton Yogyakarta dan rakyat Yogyakarta.

Labuhan berasal dari kata labuh yang bermakna melarung. Labuhan Alit yang biasanya berlangsung dua kali setahun, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB X), diubah menjadi setahun sekali, yaitu hanya pada hari penobatan Sultan. Sedangkan Labuhan Ageng dilangsungkan delapan tahun sekali.
Tempat dan Makna Yang Tersirat

Upacara Labuhan Ageng (Labuhan Besar) dilaksanakan berdasarkan tahun Dal, jadi hanya dilakukan sekali dalam satu windu. Benda-benda yang dilabuh dibagi empat bagian untuk dilabuh di Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Dlepih Kahyangan. Empat lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa tempat-tempat tersebut dahulu dipakai oleh raja-raja Mataram (terutama Panembahan) untuk bertapa dan berhubungan dengan roh halus.

Sedangkan Labuhan Alit (Labuhan Kecil), berlangsung setiap tahun. Upacara ini biasanya tidak menyertakan Dlepih Kahyangan sebagai tempat Labuhan. Menurut kepercayaan, apabila tradisi ini dihentikan maka rakyat dan Kerajaan Mataram akan tertimpa murka Ratu Kidul. Pasukan jin dan makhluk halus akan diutus untuk menyebarkan penyakit juga berbagai macam musibah.

Dua tempat utama, yakni Pantai Kidul dan Gunung Merapi, sesungguhnya merupakan lambang keseimbangan harmoni antara manusia dan alam. Laut Selatan sebagai unsur air dan Gunung Merapi sebagai unsur api. Sebuah kearifan untuk menselaraskan manusia dan tempat tinggalnya.
Prosesi dan Benda Labuhan

Labuhan dimulai dengan upacara pasrah penampi (penyerahan sesaji) dari Parentah Ageng Kraton Ngayogyakarta kepada Bupati Bantul di Pendapa Kecamatan Kretek. Setelah itu, uba rampe dibawa ke Pendapa Parangkusumo untuk diwilang (diperiksa) sebelum diserahkan kepada juru kunci Parangkusumo, sekaligus didoakan. Acara doa berlangsung di Cepuri Parangkusumo. Di tengah areal Cepuri terdapat batu yang menjadi tempat pertemuan Panembahan dan Ratu Kidul

Setelah didoakan, salah satu uba rampe berisi lorodan ageman (pakaian bekas Sultan), kenaka (potongan kuku) serta rikma (potongan rambut) Sultan selama setahun, dikubur di sudut Cepuri sambil menabur bunga dan membakar dupa.

Sisa uba rampe berisi sembilan kain dengan corak dan warna khusus, uang tindih lima ratus (sebelumnya hanya seratus), minyak koyoh, ratus (dupa), serta layon sekar (sejumlah bunga yang telah layu dan kering, bekas sesaji pusaka-pusaka Kraton selama setahun), juga termasuk jajanan pasar; dibawa di atas tiga tandu melewati jalan yang dibatasi tiang-tiang di kedua sisi hingga bibir pantai.

Uba rampe kemudian dilarung. Pada saat sesaji yang dilarung ini kembali ke pantai terbawa ombak, Peserta yang hadirpun berebut isi sesaji. YogYES yang sempat menyaksikan atraksi tersebut, menganggap hal ini adalah salah satu daya tarik dari upacara itu sendiri. Kepercayaan setempat, benda-benda tersebut dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan.

Selanjutnya para abdi dalem menuju Gunung Merapi. Sebelum labuhan, uba rampe wilujengan yang berupa sembilan tumpeng dan satu gunungan uluwetu, dikirab dari rumah Dukuh Pelemsari, menuju rumah juru kunci Merapi. Sesaji ini kemudian didoakan dan diinapkan di pendopo rumahnya.

Prosesi labuhan ini juga menampilkan fragmen tari dengan lakon Wahyaning Mongsokolo Labuhan, kesenian jathilan, uyon-uyon dan karawitan. Pada malam harinya akan diadakan tirakatan dan pagelaran wayang kulit Semar Bangun Kahyangan. Pada dini hari, sesaji diberangkatkan ke Pos II lereng selatan Merapi untuk dilabuh. Labuhan Merapi dilakukan bersamaan dengan Labuhan Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah.

Jika sekali waktu menyempatkan untuk mengikuti prosesi ini, selain mendapatkan pengalaman spiritual yang menarik, kita juga akan lebih sadar bahwa eksistensi antara manusia dan alam tidaklah dapat dipisahkan. Sebuah fusi budaya dan agama yang menggetarkan jiwa. (YogYES.COM)

Keraton Yogyakarta


Kraton ( istana )Kasultanan Yogyakarta terletak dipusat kota Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya.Pada tahun 1955 terjadilah perjanjian Giyanti yang isinya membagi dua kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta . Kraton Yogyakarta berdiri megah menghadap ke arah utara dengan halaman depan berupa alun- alun ( lapangan ) yang dimasa lalu dipergunakan sbg tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat. Pada tepi sebelah selatan Alun- alun Utara , terdapat serambi depan istana yang lazim disebut Pagelaran. Ditempat ini Sri Sultan, kerabat istana dan para pejabat pemerintah Kraton menyaksikan latihan para prajurit atau beberapa upacara adat yang diselenggarakan di alun - alun utara.


Dihalaman lebih dalam yang tanahnya sengaja dibuat tinggi ( sehingga disebut Siti Hinggil ), terdapat balairung istana yang disebut bangsal Manguntur Tangkil. Ditempat ini para wisatawan dapat menyaksikan situasi persidangan pemerintahan Kraton jaman dulu, yang diperagakan oleh boneka - boneka lengkap dengan pakaian kebesaran. Kraton sebagai pusat pemerintahan dan Kraton sbg tempat tinggal Sri Sultan Hamengku buwono beserta kerabat istana, dipisahkan oleh halaman dalam depan yang disebut Kemandungan utara atau halaman Keben, karena disini tumbuh pohon yang dalam tahun 1986 dinyatakan Pemerintah Indonesia sbg lambing perdamaian , dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional.

Didalam lingkungan Kraton sebelah dalam terdapat halaman Sri Manganti dengan regol ( gapuro ) Danapratopo yang dijaga sepasang Dwarapala : Cingkarabala dan Bala Upata, Bangsal Traju Mas, Bangsal Sri Manganti yang kini dipergunakan untuk menyimpan beberapa perangkat gamelan antik dan dari masa silam, yang memiliki laras merdu sewaktu diperdengarkan suaranya. Didalam halam Inti yang terletak lebih kedalam,para wisatawan dapat menyaksikan gedung Kuning yang merupakan gedung tempat Sri Sultan beradu, bangsal Prabayekso. Bangsal manis, tempat Sri Sultan menjamu tamu - tamunya, lingkungan Kasatriyan sbg tempat tinggal putera ; putera Sri Sultan yang belum menikah. Tempat terakhir ini terlarang bagi kunjungan wisatawan.

Kraton merupakan sumber pancaran seni budaya jawa yang dapat disaksikan melalui keindahan arsitektur dengan ornamen- ornamennya yang mempesonakan. Setiap hari Karaton terbuka untuk kunjungan wisatawan mulai pukul 08.30 hingga pukul 13.00, kecuali hari Jum;at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00.

Sumber: BAPARDA DIY

Istana Air Taman Sari


Terletak lebih kurang 400 meter dari komplek Kraton Yogyakarta atau sekitar 10 menit jalan kaki ke pasar burubg dari halaman Mangangan.

Tamansari berarti Taman yang indah, dimana zaman dahulu merupakan tempat rekreasi bagi Sultan Yogyakarta beserta kerabat istana. Kini, Tamansari dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Mulai dari pukul 08.00 hingga hingga 16.00.

Di kompleks ini terdapt tempat yang masih dianggap sacral di lingkungan Tamansari, yakni Taman Ledoksari dimana tempat in merupakan tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan.


Diantara bangunan yang menarik adalah Sumur Gemuling yang berupa bangunan bertingkat 2 dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Di masa lalu, bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan ibadah sholat. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah. Di bagian lain masih banyak lorong bawah tanah yang lain, yang merupakan jalan rahasia, dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bilamana sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh.

Di sebelah Utara kompleks Tamansari terletak pasar Ngasem (sering disebut Pasar Burung) tempat jual-beli binatang unggas (burung indah, burung penyanyi, merpati, bekisar dan lain-lain).

Kompleks Tamansari juga merupakan pemukiman para seniman muda, khususnya yag bergerak dalam seni lukis batik. Karya-karyanya cukup bermutu sedang harganya terjangkau kantong wisatawan.